Thursday, September 9, 2010

Kerupuk dan Guling Ijo Merayakan Lebaran

9 September 2010.

It's the last day on Ramadhan!
Nah, di tengah hiruk pikuk mudik, keluarga saya juga tidak mau kalah ramainya. Segala sesuatunya disiapkan terutama makanan (sekeluarga gemar makan). Kue-kue kering bertoples-toples, kue tart ada juga, brownies berdos-dos, lauk-pauk berupa opor, krecek, dan rendang melimpah (jangan heran, karena semuanya menjadi persiapan makanan selama seminggu kedepan XP), dan lain-lain.

Saya sebagai anak yang baik, entah mengapa di akhir Ramadhan bisa juga kesambet. Sejak pagi hari saya menunjukkan perilaku-perilaku aneh, seperti mengangkat jemuran, membersihkan lemari, mandi pagi serta keramas. Sore pun berlanjut, saya membantu mama memasak agar-agar warna merah dan hijau dan memotong-motong nangka yang semuanya akan dijadikan es buah di hari raya. Kemudian saya pun dengan rasa kasih sayang sempet-sempetnya dan mau-maunya dimintai tolong untuk menyuap adik, alhamdulillah adik makan dengan lahap. Tidak berhenti disitu, setelah berbuka puasa saya menggoreng kerupuk. Ya, kerupuk saudara-saudara!! Kerupuk yang saya goreng terdiri dari dua jenis, yaitu kerupuk udang dan emping. Menurut saya, lebih mudah menggoreng emping meskipun satu-satu. Berikut beberapa gambar yang diambil dari TKP.

Gambar 1: Inilah gaya saya yang sedang menggoreng (sempet-sempetnya minta foto)

Gambar 2-4: Tiga toples kerupuk yang berhasil saya goreng. Ternyata 90% dari total kerupuk sukses dengan terhormat berwarna BUKAN KUNING a.k.a gosong.
Gambar 5: Perbandingan antara warna emping 'yang seharusnya' dan yang gosong.

Selesai urusan dengan kerupuk, mama membersihkan penggorengan dan kompor, dengan bangganya beliau berkata "Waduh anak mama pinter, minyaknya pas, selesai tanpa meninggalkan sisa minyak" dan beliau memamerkan wajannya, mendengar pujian tersebut saya hanya senyum congkak dan berkata "Iyalah ma, minyaknya nggak ada sisa di wajan dong, kan udah bertebaran di pinggir kompor".

Setelah itu, saya melakukan tarian keberhasilan melakukan hal positif, tarian tersebut saya namakan 'The Foolish Victory Dance', caranya sangat mudah! Cukup melangkah sekali kedepan, goyangkan pingul, lakukan hal ini dua kali sambil berkata "Iyey iyey....iyeeeh iyeeeh!", selanjutnya lebarkan kaki dengan tangah menjuntai ke bawah, dan katakan "uu aak uu aak!", mudah bukan? Mungkin lain kali saya akan mengupload video tersebut XP.

Selanjutnya, saya menyiapkan baju yang akan dipakai besok dan mengupload gambar-gambar yang ada disini, tak lupa menyempatkan diri untuk mengikuti berita di salah satu stasiun TV kesayangan saya. Ditengah kesibukan menonton TV, ternyata saya dimintai tolong lagi untuk menyusun beberapa (banyak) lontong yang masih panas di meja makan dan menutupnya.

Gambar 6: Guling ijo yang saya susun.
Kemudian dirombak sedikit oleh nenek, katanya jangan rapat-rapat, nanti nggak bisa bernafas. Dari sini saya mengambil pelajaran bahwa "Lontong juga manusia"

Naah, setelah itu saya menulis postingan ini, gyahahahahahaha.
Oiya, saya baru tau ternyata saat lebaran tidak hanya baju yang baru. AC, kulkas, sendok, bahkan sabun cuci tangan pun baru!!! Beberapa hari yang lalu setelah pulang dari swalayan, salah satu barang yang kami (saya, adik dan mama) beli adalah sabun cuci tangan, sesampainya di rumah saya pun ingin menggunakan sabun tersebut. Sontak mama berteriak "JANGAN!!", setelah kaget terjadi percakapan antara saya (D) dan mama (M).
D: Ada apa ma?
M: Jangan dipakai sekarang sabunnya.
D: Emang kenapa?
M: Kalau udah dibuka sekarang nanti keburu habis sebelum lebaran, terus ujung-ujungnya pas lebaran nanti kita balik make sunlight. (di rumah kami memakai 'sedikit' sunlight yang diisi dalam botol yang dipenuhi air untuk cuci tangan)
D: Lha, emang kenapa? Biasanya juga gitu kan?
M: Yaaaa... Jangan dong, sekali-sekali lebaran sabunnya kerenan dikit.
D: ....????????


Segenap keluarga besar Amir, terutama keluarga kecil Taufik Amir mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
MOHON MAAF JASMANI DAN ROHANI
Semoga amal ibadah kita selama ini diterima oleh-Nya.
Happy holiday! Hati-hati di jalan!
Oiya, I hope all of Moeslem around the world may have a great Idul Fitri like I had. Ameen.

Ditulis ditengah lautan kumandang Takbir,
Dengan rasa kemenangan,
Dengan tangan penuh kecipratan minyak goreng,
Dengan senyuman tulus,


Ferralda Talitha Amir

Thursday, September 2, 2010

Buka Bersama "Nggenjot 2010"

Yogyakarta,
2 September 2010.

Dude, it's 22nd on Ramadhan!
Topik kali ini adalah cerita buka bersama Kontingen DIY untuk ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2010. Kami menamainya 'Nggenjot 2010' atas usul Yafi. Akronim tersebut berasal dari 'Kontingen Jogja Tahun 2010'.

Acara buber ini sendiri telah lama kami rencanakan, berawal dari rasa kekeluargaan yang telah timbul diantara kami, dan rasa kangen yang mendera Hayu akan belahan jiwanya, Hilton, maka kami pun setelah berdiskusi hebat akhirnya memutuskan untuk mengadakannya hari ini, bertempat di Food Court SkyDining, dekar Fly Over Lempuyangan.

Saya sendiri sepulang bimbel langsung menuju lokasi tersebut, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya disana sudah banyak NggenjotCrew yang datang. Manusia pertama yang saya lihat adalah Erwien, dia dan wajah lugunya nongol begitu saja dari pojok atap SkyDining. Ya, SkyDining sesuai namanya menjual panorama kota Jogja dari atas atapnya meskipun tidak terlalu tinggi karena bangunannya hanya terdiri dari 4 atau 5 lantai.

Sesampainya di atap, saya langsung menghampiri Crew yang terdiri dari kaum dhuafa, maksud saya kaum Adam, setelah say hello pada mereka, saya menyapa Crew yang terdiri dari kaum hawa. Setelah itu acara pengambilan foto sebentar dan berbuka.

Menu untuk berbuka adalah aneka jus, es campur yang dengan indahnya hanya tersedia LIMA gelas sedangkan kami ber-25 sehingga dengan penuh rasa kekeluargaan kita adakan pengeroyokan dan pemerkosaan terhadap es tidak berdosa itu; terakhir adalah kentang goreng plus saos. Sedangkan menu utamanya adalah seperangkat alat sholat (lho?), maksud saya seporsi ayam bakar, nasi, satu tempe goreng, satu tahu goreng, satu mangkok sayur asem, dan satu piring kecil sambel. Kamipun makan dengan rakusnya, dan dasar manusia tidak tahu malu, ketika Homo antisativa (baca: Hayu) menawarkan nasinya, saya dan Hanani dengan indahnya menawarkan diri. Parahnya, genjatan yang dilakukan Hanani tidak sebatas itu, ia menawarkan diri lagi untuk menerima sumbangan sambel. Alhasil, si malang Shinta pun merelakan sambelnya diobok-obok Hanani.

Setelah prosesi makan dan sholat (oiya, mushallanya kecil dan sempet kelabakan kita XP), saatnya ber-Geje ria! Ada yang komplotan pemain poker (lain kali buber di Las Vegas aja apa ya?), ada yang bergumul, maksud saya bercerita, ada yang senang menyendiri seperti tetua Ias, ada yang sibuk mengkhayal, serta ada pula yang sibuk jeprat-jepret sana sini padahal hasilnya nggak bagus, huahahaha XP.

Acara selanjutnya foto bersama. Tidak mudah mengajak para cecunguk meninggalkan meja pokernya untuk berfoto, berikut tips yang dapat digunakan saat mengajak orang banyak untuk berfoto:
  • Beberapa orang yang sudah ingin berfoto segera dikumpulkan dan bersiap untuk foto.
  • Sang fotografer meneriakkan kata "SIAP! SATU, DUA...... TIIIII......." dengan merdu. Ingat! dengan MERDU! Boleh dalam berbagai bahasa.
  • Ulangi langkah kedua dengan suara yang lebih keras ketika yang diajak belum beranjak.
  • Yakinlah, dalam beberapa detik mereka pun datang, jika tidak, mereka bukan kaum narcisism seperti ANDA! (udah, gue tau Han, lu pasti baca ini)
Nah, tragisnya, kalau biasanya fotografer yang ngejar-ngejar artis buat difoto, dalam kasus Nggenjot, FOTOGRAFERNYA YANG DIKEJAR!!! Ternyata masalah tidak hanya di saat memanggil Crew yang bejat-bejat itu, mereka pun susah diatur untuk berfoto. Ketika berkumpul, datang Crew di depan yang sudah ada, karena tidak terima wajah imutnya ketutupan akhirnya yang tadinya di belakang maju ke depan, mau nggak mau saya harus mundur untuk mendapatkan gambar semuanya. Kejadian itu berulang terus hingga saya tidak dapat mundur lagi dan saya memutuskan untuk lari ke belakang. Ternyata keputusan yang saya buat SALAH TOTAL! Awalnya saya pikir mereka hanya akan berbalik tapi tetap dalam posisi semula, tetapi mungkin karena saya semangat lari dan mereka pikir saya akan kabur maka mereka pun MENGEJAR SAYA! Alhasil sesi foto-foto terselewengkan menjadi sesi kejar-kejaran hingga saya terpojok dan akhirnya mereka pun mau tenang untuk difoto. Alhamdulillah.

Terakhir, kami pergi ke atap bawah untuk berfoto juga (dasar narsis!), kami meminta tolong kepada salah satu pegawai disana untuk memfoto kami. Acara ini berlangsung sakral dan cukup tenang daripada acara sebelumnya (CUKUP karena tidak ada kata TENANG di Nggenjot), mungkin karena mereka (dan saya?) tidak bisa maju-maju, maupun mundur-mundur (ya iyalah, kalau mundur adanya jatoh kebawah, mau?).

Dan akhirnya lagi, saya harus pulang karena telah dijemput Mas saya yang telah setia menunggu di bawah, duileh. Begitu berat rasanya meninggalkan mereka....hiks

Testimoni:
Awal berjumpa, ku tak tau apa-apa
Tanpa makna, tanpa duga
Kupikir kalian hanyalah manusia-manusia berego tinggi
Bertitelkan 'anak olim' berjalan angkuh
Acuh tak acuh

Dugaan tenyata berujung jua
Terhapuskan atau tertutup
Kebaikanmu, dia, kalian, semuanya
Membuka mata hatiku
Menyelimuti kalbu

Canda tawa,
Melihat Murtini tidur terhormat di kelas Biologi
Tangis haru,
Melihat beberapa diantara kita pulang tak berkalung medali
Keluh kesah,
Ketika balik ke sekolah dan mendapat siksa dunia
Kasih sayang,
Melingkupi kita

Tak pernah ada raut kesedihan ketika bersama
Ketika bersama kalian saya merasa
Berada di tengah KELUARGA besar
Saya merasa dihujani kasih sayang
Saya merasa kalian bukanlah kawan
Kalian adalah saudara, keluarga.

Ditulis dengan majas hiperbola,
Pada tengah malam,
Jadi kalong,
Cekikikan sendiri,
Ditemani angin sunyi.


Ferralda Talitha Amir


NB:
  • Foto-foto dapat dijenguk di sini.
  • Hanani dan Hilton: dengan penuh kenistaan banyak nongol di foto-foto tersebut, harap maklum.
  • Pembaca yang budiman selalu tidak segan untuk meninggalkan komentar demi terwujudnya kemaslahatan bangsa.
  • Nuwun.

Kisah Persahabatan Dunia Nyata dan Dunia Maya

Yogyakarta,
2 September 2010.

Ada apa ya dengan judul diatas? Saya juga kurang faham xP.

Kisah ini dimulai dari keisengan saya membaca majalah favorit saya yang baru dibeli kemarin (1/09) yakni National Geographic Indonesia edisi September 2010. Di dalamnya memuat berbagai informasi yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Salah satu yang menarik buat saya adalah artikel berjudul "DUNIA TRANSPARAN" di rubrik Gagasan Besar. Kontan saya biasa saja (lagi). Di pikiran saya saat itu adalah: plastik (ada apa dengan plastik? Menurut saya plastik identik dengan transparan), ikan sidat (ada artikel tentang ini di bagian akhir majalah, saya pikir itu adalah halaman awalnya), dan internet (dunia maya apakah sama dengan transparan? saya juga tidak begitu mengerti). Ternyata saudara-saudari sebangsa dan setanah air! Isinya adalah.......

Realitas Tertambah / Augmented Reality

"Oh itu, kalau itu mah saya udah tau dari dulu".
Awwr, bagi saya ini adalah istilah baru meskipun saya sudah tau sedikit mengenai ini tapi saya baru tau nama panggilan makhluk tersebut.

"Emang makhluk apa sih dia?".
Hahaha, nah nggak tau juga kan? Jadi, setelah memahami artikel tersebut sejenak dan menikmati foto-fotonya, saya bertekad untuk menggali informasi tentang ini lebih lanjut kepada mbah Google, dan mbah Google pun mengantarkan saya kepada istrinya, Nenek Wiki.

Singkat kata, saya pun mengunjungi Nenek Wiki berbekal sekeranjang kurma. Setelah melalui berbagai siksaan dan cobaan seperti diajak main scrabble sama liliput hingga dihadang oleh serigala jahat, saya pun sampai ke tempat beliau (ribet amat ya? padahal cuma mau bilang nge-klik link di google). Baca, baca, dan baca. Akhirnya saya mafhum sedikit tentang makhluk ini.

Realitas Tambahan/Augmented Reality atau biasa disingkat AR adalah penggabungan dunia semu (dapat berupa benda atau lingkungan) dengan dunia nyata. Simpelnya mirip-mirip koran yang ada di pilem Spy Kids (bukan yang di Harpot lho!), udah pernah nonton kan? Atau maen game Mosquitos di hape 3650/3660 tempo doeloe itu. Kalau mau lebih ilmiah, berikut pengertiannya yang disadur dari Nenek Wiki.
Ronald T. Azuma (1997) mendefinisikan augmented reality sebagai penggabungan benda-benda nyata dan maya di lingkungan nyata, berjalan secara interaktif dalam waktu nyata, dan terdapat integrasi antarbenda dalam tiga dimensi, yaitu benda maya terintegrasi dalam dunia nyata.[6][7] Penggabungan benda nyata dan maya dimungkinkan dengan teknologi tampilan yang sesuai, interaktivitas dimungkinkan melalui perangkat-perangkat input tertentu[8], dan integrasi yang baik memerlukan penjejakan yang efektif.
Bentuk alatnya bermacam-macam. Akan coba saya uraikan sebagai berikut.
  • Head Mounted Display
Yang ini dipasang dikepala, kalau menurut gambarnya sih seperti bando gitu. Ada dua jenis yang tergolong genus ini (jiah, kayak bio aja), yang pertama Opaque Head-mounted display, dipakai di salah satu mata, sedangkan mata yang lain melihat seperti biasa, kemudian kedua gambar diintegrasikan (begitu sepemahaman saya). Kalau dua-duanya ditutup? Tenang aja, ada kamera dan komputer yang mengaturnya, tinggal lihat rekaman sajo. Kedua, See-trough Head-mounted Display, menyerap cahaya dari lingkungan luar sehingga kita melihat seperti biasa, nanti ada sistem cermin dan komputer yang melakukan pencitraan grafis.
  • Virtual Retinal Display
Yang ini rada unik, cahaya diproyeksikan langsung pada retina, ckckck. Sayangnya untuk perangkat ini masih berupa prototipe, jadi masih dikembangkan gitu deh. Kelebihannya dari HMD antara lain resolusi gambar yang lebih tinggi, dan bisa memproyeksikan gambar penuh maupun yang transparan.
  • Tampilan Berbasis Layar
Ini yang paling mudah kita temui, ada di iPhone dan Android (mudah sih mudah, harganya cuy!). Nah, kalau yang dicontohin di NG, kita tinggal nyalain aplikasinya, GPS bekerja, posisi kita udah diketahui sama mereka terus kita tinggal ngarahin kamera ke suatu objek, misalnya apartemen, nanti dilayar muncul dah infomasi tentang apartemen tersebut, seperti biaya sewa, dll. Atau ke mana gitu, nanti ada info perampokan 2 hari yang lalu, nah jadinya kita bisa lebih hati-hati kan? Terus, ada informasi tentang tempat bensin yang murah (sampai ada keterangan 'tanpa timbal' gitu), halte bis terdekat, juga para tweeps ada didekat kita. Bahkan, kalau ngarahin ke langit pas siang hari misalnya, kita bisa melihat (digambarkan) dan diberi keterangan rasi apa yang ada disitu. So, buat kamu-kamu yang merasa astronom nggak perlu repot-repot lagi buka Stellarium dari lappy atau iPhone yang masih berupa aplikasi biasa (jiah, biasa katanya).

Untuk aplikasi penggunaannya mah jangan ditanya, banyak euy. Kita nggak cuma bisa video call-an, tapi bisa langsung menampilkan orangnya meskipun dalam bentuk semu, jadi rasa kangen lumayan terobati, dan buat yang pacaran mau pegang-pegang pun nggak bakal ada rasanya, ya iyalah, pegangan sama udara! Tapi kalau sama proyeksi aja udah naik syahwatnya, kebangeten dah tu orang. Buat yang suka lupa naruh barang kan bagus juga tuh, bisa memutar rekaman kejadian. Terlebih lagi kalau udah memakai lensa kontak dan dihubungkan dengan otak kita, aje gileee.

Sekarang teknologi kita untuk AR yang sudah ada di pasaran adalah telepon genggam atau hape. Menurut NG, tahun 2010 sudah merambah ke kacamata AR, dan tahun 2015 (?) akan menuju ke lensa kontak. Ayo generasi muda! Nantinya kita yang akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, dimana para generasi tua mengharapkan kita, mari kita perkuat iman (1) dan ilmu sejak sekarang! (Jadi semangat nih di bidang teknologi xP)

info lebih lengkap hubungi Nenek Wiki atau Mbah Google!



Ditulis sambil bolak-balik ke Nenek Wiki,
Nge-FB, nyari data buat karya tulis, ngupil,
angkat jemuran, ngunci pintu samping,
perut keroncongan (fasting day-22nd),
dan mau nonton video Keong Racun tapi
ngga bisa-bisa x(,



Ferralda Talitha Amir

Saturday, August 28, 2010

Buka Bersama "ALL SCIENCE ONE '011"

Yogyakarta,
28 Agustus 2010.

Aduh, nggak tau nih, tiba-tiba aja saya kesambet ingin mencurahkan segala pengalaman saya (dan my little dzacam tentunya) di blog, mungkin karena Facebook tidak muat menampilkan seluruh isinya, dan Twitter lebih parah, saya hanya menggunakan twitter untuk memberi info singkat dalam tempo yang cukup pendek.

Well, kali ini saya akan sedikit (atau banyak?) bercerita mengenai buka bersama seluruh (meskipun tidak semuanya hadir) anak kelas XA, XI IPA 1, hingga XII IPA 1. Lalu mengapa saya ikut? Karena saya ditakdirkan mengenyam pendidikan kelas XII di A1, naas memang, setelah 2 tahun bersama anak kelas XB yang berlanjut ke XI IPA 2 (XISCTO) dan mulai bertebaran benih-benih cinta kepada mereka, saya dihujamkan ke XII IPA 1 yang notabene kelas 'ayam' saya saat ini. Alhasil, saya harus siap menghadapi 'ihhiy' atau 'ciee' yang berkepanjangan dalam jangka waktu setahun kedepan.

Langsung saja, kisah ini dimulai dari sepulang sekolah yang harusnya jam setengah satu menjadi jam setengah tiga karena adanya telekonferensi yang saya ikuti (baca post sebelum ini tentang "Telekonferensi Ketiga Bagi Saya"). Jadinya saat pulang tentu saja badan saya letih, belum lagi saya merasa sedikit demam dan pusing, mungkin akibat pemasangan AC di kelas yang anginnya langsung mengarah ke tempat duduk saya. Meskipun dalam kondisi yang kurang fit, saya berusaha datang ke acara ini, karena inilah kesempatan pertama untuk menyatakan diri secara tidak resmi menjadi salah satu bagian dari keluarga A1 meskipun hanya kebagian sedikit peran, selain itu saya juga menghormati ajakan 'ayam' saya. Jadilah saya bersiap berangkat dengan mengenakan celana jins hitam, kaos oblong lengan pendek, jaket rajut (?) merah yang berbentuk semacam baju musim dingin yang
menjuntai hingga paha, dan jilbab hitam yang dipermanis dengan pin kancing hitam-putih buatan Mona. Tak lupa saya membawa tas resleting oranye buatan Mona juga yang berisi mukena coklat, dan pakaian 'my little dzacam'.

Beginilah dandanan saya

Saya berangkat dari rumah kurang lebih pukul 16.15 dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Mas Aan. Perjalanan menuju lokasi pembukaan puasa (freak) saya isi dengan membaca novel jadul Raditya Dika yang berjudul 'Kambing Jantan' karena waktu yang dibutuhkan cukup lama, sekitar 30menit, mengingat rumah makan Muara Kapuas terletak di Jl. Kaliurang Km. 15,5.


Sesampainya disana ternyata rombongan baru berangkat dari sekolah kami yang tercinta, SMA Muha. Artinya, saya seorang diri menanti kedatangan pangeran, maksud saya teman-teman. Untung saja tidak ada kejadian aneh yang menimpa, mengingat baju yang saya kenakan berwarna merah, senada dengan baju karyawan rumah makan tersebut, apalagi saya menunggu di gerbang tempat para karyawan menerima tamu.

Setelah menunggu 15menitan, akhirnya datang tiga ekor manusia, yang terdiri dari Silvi, Agil, dan satunya lagi saya lupa. Masuklah kami ke tempat yang telah dipesankan untuk kami, dimana telah tersedia pelbagai hindangan. Sejak saat itulah satu persatu manusia yang kami kenal menampakkan diri. Ketika beberapa dari mereka datang, saya dan Vika menyempatkan diri untuk berfoto, lebih tepatnya saya memoto Vika. Berikut ini salah satu hasilnya.

ini nih coverboy majalah ANEKASATWA

Setelah semua lengkap dan sudah memasuki waktu berbuka, kami pun berbuka dengan diawali oleh doa yang dimpimpin Damar, segelas es teh, es buah basi tanpa es, dan mendoan plus sambel kecap. Ada insiden yang tidak patut untuk ditiru, yakni: saya menyenggol gelas plastik yang berisi es buah, tumpah, mengenai pakaian saya dan kedua tas saya (awwrrr), meskipun begitu saya masih bersyukur tumpahan tersebut tidak mengenai 'my little dzacam', dan lebih bersyukur lagi karena 'ayam' saya bersedia mengelap tumpahan yang mengenai tikar tempat kami duduk (thank you yam).



Setelah kenyang dengan ayam bakar dan nasi (pastinya, saya hanya satu porsi, beneran! 1+1), kami pun bergegas untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Muslim dan anak Muha yang taat, yakni sholat. Mushola yan disediakan cukup besar (karena tidak ada yang harus mengantri atau berdesak-desakan), antara male dan female dipisah sehingga tidak antri, tetapi saudara-saudari sebangsa dan setanah air! Tragisnya tempat wudhu yang disediakan hanya dua keran, well tidak masalah memang, toh kami juga tidak perlu mengantri lama, masalahnya tempat wudhu tersebut tersumbat (atau bahkan tidak ada?) lubang pembuangannya, sehingga kotak yang disediakan penuh tergenang air dan kami harus wudhu dengan posisi spiderman. Yang tidak dapat saya bayangkan adalah air yang tergenang itu tentunya hasil wudhu, termasuk hasil kumur, dan di keran samping saya ada lelaki jantan yang benar-benar jantan untuk 'nyemplung' kedalam kobokan raksasa itu (yieks, semoga Allah membalas perjuangannya).

Malam semakin larut, acara kami tutup dnegan foto bersama, berdua, bertiga, berempat, dst. Kemudian satu-persatu manusia-manusia itu pulang ke habitat masing-masing. Akhirnya tinggal saya, 'ayam', dan Jeck a.k.a Alex yang tersisa. Alasannya simple, saya menunggu jemputan, 'ayam' menunggu saya dijemput, dan Jeck a.k.a Alex menunggu 'ayam' selesai menunggu saya dijemput. Kasihan si Jeck a.k.a Alex, motornya rusak dan hanya bisa berjalan pelan-pelan, sehingga atas alasan kemanusiaan 'ayam' rela mendampinginya hingga dia sampai ke rumah dengan selamat, padahal sebelumnya si Jeck a.k.a Alex sudah bilang ke 'ayam' gini "udahlah nggak usah ditemenin, nggak ada yang merkosa aku juga" kemudian ditimpali oleh Banu yang saat itu sudah diatas motor bersama wanitanya "gue juga nggak bakal mau merkosa lu, Jeck!".

foto bersama

pulang-pulang

Setelah berabad-abad menunggu, kehabisan gaya, hingga kehabisan topik, akhirnya jemputanku datang juga XD dan kami pun pulang ke kandang masing-masing. Anyways, terima kasih kepada 'ayam'-ku dan Jeck a.k.a Alex yang telah menemaniku hingga larut, maaf yaaaa XP.

ini dia yang setia menunggu, kiri 'ayam', kanan Jeck a.k.a Alex

akhirnya jemputan datang juga XD




Ditulis dengan suka cita,
layaknya seorang gadis yang telah hilang bertahun-tahun,
menemukan keluarganya kembali,
thanks for accept me, science one!

Ferralda Talitha Amir

Telekonferensi Ketiga Bagi Saya

Yogyakarta,
28 Agustus 2010.

Kali ini saya akan berbagi ilmu yang baru saja saya dapatkan pada hari ini. Berawal dari beberapa hari yang lalu, saat keluar dari masjid Al-Mujaddid (Masjid sekolah saya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta) saya ditawari oleh salah satu guru, yakni Pak Agus (sekedar informasi, beliau adalah guru akhlak abadi, maksudnya beliau mengajari saya dan teman-teman pelajaran akhlak dari kelas X hingga XII, ckckck), untuk mengikuti Telekonferensi tentang sains pada hari Sabtu, 28 Agustus 2010. Pada saat itu, saya menyanggupi. Esoknya, ada pengumuman di kelas saya tentang adanya sosialisasi STAN dimana pelaku sosialisasi tersebut merupakan alumni SMA Muha, naasnya kegiatan tersebut mengambil waktu yang tepat sama dengan kegiatan telekonferensi, hanya tempatnya yang berbeda, telekonferensi di ruang ex-lab bahasa, sedangkan sosialisasi STAN bertempat di Masjid. Sontak saya biasa saja (lho!), mengingat saya tidak terlalu minat dengan STAN (maaf, tapi ibu saya sangat ruang ex-lab bahasa.

Singkat cerita, telekonferensi pun berlangsung, dan saya ternyata satu-satu perwakilan kelas XII yang hadir saat itu. Oh ya, sekedar info, telekonferensi ini yang ketiga kalinya bagi saya, sedangkan bagi SMA Muha ini sudah kesekian kalinya. Kegiatan ini merupakan wujud kerjasama SMA Muha dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 1000guru.net dimana telah berlangsung sekitar 1,5 tahun (sumber: Bu Nazilah).

Telekonferensi ini melibatkan beberapa pihak, antara lain: SMA Muha (Bu Nazilah, Bu Huda, Bu Dwix, Pak Agus, Pak desgraf, dan siswa yang berjumlah tigapuluhan), 1000guru.net (Bu Witri di Jerman dan Pak Imbron), serta narasumber yakni Bu Shohiffah Annur yang sekarang sedang menempuh S2 di Technische Universität Braunschweig (ribet ya!) katanya selama 1,5 tahun, sedangkan sebelum berangkat ke Jerman beliau sudah kuliah S2 di FMIPA UGM selama 1 tahun, dan beliau ini seorang kimiawati (idih, apaan tuh?).

Materi kali ini adalah "Bahaya Pestisida terhadap Lingkungan" (kalau tidak salah seperti itu, ini termasuk ke dalam bahasan kimia lingkungan). Dimana pestisida dibagi menjadi beberapa jenis seperti insektisida (pembasmi serangga), fungisida (pembasmi jamur), herbisida (pembasmi gulma), rodentisida (pembasmi binatang pengerat), akarisida (pembasmi tungau), dan fumigan (berupa gas yang dapat membunuh insekta).

Pestisida memiliki beberapa nama, seperti:
  1. Nama Kimia : 3,5,6-trichloro-2-pysidinoxyacetic acid (maaf kalau ada salah pengetikan)
  2. Nama Umum : Triclopyr
  3. Nama Pasaran : Garlon 3A/Garlon 4
Nah, pestisida juga terbagi menjadi beberapa jenis/golongan, yakni:
  1. Insect Repelient (ex: penolak nyamuk - ini termasuk tidak ya? Masalahnya catatan saya tidak jelas keterangan mengenai hal ini, lebih baik tidak usah dipikirkan dan coba cari yang valid di MbahGoogle)
  2. Organochlorine : merupakan senyawa hidrokarbon yang terklorinasi (pada cabang C banyak Cl), salah satu yang populer adalah DDT, dulu DDT digunakan untuk membasmi nyamuk malaria, tetapi penggunaannya dilarang sejak 1972 karena akumulasi berlebihan di dalam tubuh dapat merusak neurotoksin, terlebih lagi DDT merupakan zat yang persisten di dalam tubuh. Akan tetapi, hingga sekarang masih ditemukan adanya DDT pada beberapa obat nyamuk di Indonesia.
  3. Organophosphat : merupakan insektisida paling toksik, jika terdapat sisa-sisa zat ini pada makanan dan termakan pada batas tertentu dapat membawa kematian, karena zat ini menghambat enzim Acetylkholinesterase (dalam sel darah merah).
  4. Karbamat : mekanisme toksisitas sama dengan organophosphat, hanya saja lebih rendah dampaknya.
  5. Phyrethroid : merupakan pestisida sintetik turunan 6 phyrethin alami yang diisolasi di phyrethrum (ekstrak bunga krisan), zat ini beracun bagi ikan dan organisme perairan lainnya.
Saya kan nggak doyan minum pestisida, jadi nggak mungkin dong mati konyol gitu.... Eits, jangan salah, keracunan pestisida bukan berarti mengkonsumsinya secara langsung, zat-zat beracun tersebut dapat masuk ke tubuh kita melalui udara karena beberapa pestisida bersifat volatile. Selain itu, tangan kita yang habis dipakai berinteraksi dengan pestisida kemudian tidak dicuci dengan bersih dapat membukakan pintu selebar-lebarnya kepada racun untuk menggerogoti tubuh kita. Sumber-sumber makanan yang seperti ikan, kerang, dll, yang telkah tercemar juga turut andil dalam masuknya pestisida ke tubuh manusia.

Berikut ini ditampilkan beberapa kasus keracunan:
  • Pada tahun 2007 sekitar 446 orang menjadi korban keracunan pestisida, dan 30%-nya keracunan saat menyemprotkan pestisida (dapat disebabkan karena saat menyemprotkan tidak memakai sepatu boot, masker, dan sarung tangan karet).
  • Keracunan akibat DDT yang hingga saat ini sisa -sisa zat tersebut masih ada di lingkungan kita.
Kalau begitu, solusinya apa dong? Sekarang telah ada pestisida alami yang dinamakan biopestisida, cara kerjanya secara umum sebagai berikut:
  1. Bioinsektisida : menggunakan protozoa, biasanya dengan nama dagang NOLOC.
  2. Bioherbisida : menggunakan penyakit yang ditimbulkan bakteri, jamur, dan virus, mengisolasinya dan kemudian ditransfer ke gulma.
  3. Biofungi : menggunakan spora.
Terus, kalau ada biopestisida, mengapa negara kita ternyata masih menggunakan pestisida kimiawi yang notabene merangkap fungsi sebagai homosida (maksa)?
Menurut Bu Iffah, hal tersebut dikarenakan oleh petani yang belum paham dengan bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pestisida kimiawi, kurang populernya biopestisida, dan harga biopestisida yang lebih mahal.

Hemm... Ternyata begitu ya, tak terasa kita hidup di lingkungan yang awalnya kita rasa baik-baik saja, padahal tanpa kita sadari malaikat pencabut nyawa selalu mengikuti kita kemana-mana (lebay), tidak di udara, darat, bahkan air pun telah tercemar.

So, saatnya kita peduli lingkungan dan sesama, setelah mengetahui ini ada baiknya ilmu kita di-share kepada petani atau pihak lain yang belum paham agar segera mengambil tindakan konkret untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Kan ujung-ujungnya yang untung atau rugi diri kita juga, setuju?

Ditulis dengan semangat menggebu-gebu,

Ferralda Talitha Amir

Friday, August 27, 2010

Ketika Menemui Jalan Buntu

Yogyakarta,
27 Agustus 2010

Apakah Anda pernah tersesat hingga mencapai jalan buntu? Apakah Anda pernah merasa tidak punya pilihan lain? Apakah Anda pernah kehabisan ide untuk diwujudkan?

Saya rasa setiap orang akan menjawab "Ya" untuk pertanyaan-pertanyaan diatas. Hal yang manusiawi memang. Akan tetapi, jika kita dihadapkan kepada suatu deadline yang mengharuskan kita untuk mengumpulkan suatu karya, sedangkan kita belum menyelesaikan -atau bahkan belum memulainya- hal tersebut akan menjadi masalah besar.

Ya, itulah yang sedang saya alami sekarang. Saat menikmati masa 'rehat' dari kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang memenuhi jadwal saya selama 2 tahun belakangan, saya ditawari pelbagai lomba yang tidak kalah menariknya. Mulai dari Cerdas Cermat, Karya Ilmiah, hingga Story Telling -saya masih bersyukur tidak ditawari lomba tilawah. Nah, salah dua diantaranya menuntut otak saya untuk memiliki ide dan merealisasikannya dalam bentuk tulisan yang menarik. Memang belakangan saya sedang gemar menulis baik secara konvensional -saya memiliki buku khusus yang berfungsi sebagai 'tempat sampah' pikiran saya yang ditulis dalam bahasa Inggris- maupun berupa tulisan elektronik seperti blog. Sayangnya, agenda tulis-menulis ini masih seputar kegiatan harian dan bukan bersifat ilmiah. Padahal saya dituntut untuk ilmiah di lomba-lomba tersebut. Tragisnya, saat ini saya belum memiliki ide yang cukup baik untuk dijadikan karya tulis.

Lalu bagaimana?

Yap, berikut ini akan saya sampaikan beberapa list yang 'semoga' dapat saya wujudkan dengan baik.
  1. Mendaftar segala kemungkinan topik.
  2. Langsung menuliskan ide-ide kecil yang tiba-tiba dan semena-mena terbesit di pikiran.
  3. Menganalisa kemungkinan-kemungkinan dengan pelbagai pertanyaan seperti "apakah topik ini menarik?", "bagaimana saya menelitinya/menyampaikannya?", "apa yang akan saya fokuskan?", dan tralala lainnya.
  4. Mengkonsultasikannya dengan pihak berwajib (lho?), maksud saya kepada yang kompeten di bidangnya, seperti Mama, Ibu Fatma, Ibu Wiwiek, Yan, Darmadi, dll, dsb, dst.
  5. Mencari data sebanyak-banyaknya agar mendapat gambaran.
  6. Mengeleminasi beberapa kemungkinan yang mungkin tidak akan dikerjakan dan fokus pada suatu tujuan.
  7. Ini yang paling berat "START", satu kata yang terdiri dari lima huruf yang sangat mudah diucapkan, tapi jangan tanya tentang maknanya, saya belum faham benar.
  8. Tidak putus asa untuk "TRY AND ERROR".
  9. Jurus jitu: "DOA" seperti yang sering dinasehatkan oleh orang-orang, dan merupakan kunci dari segala pintu yang ada.
Nah, nampaknya sembilan poin dulu. Mohon doanya agar saya dapat melakukan yang terbaik. Amin. Mohon bantuannya juga, baik berupa ide, saran, dan kritik melalui Facebook, Twitter, Comment dibawah ini, maupun email. Terima kasih.

Selesai ditulis pada pukul 22.50 WLS
Malam Nuzulul Qur'an

Ferralda Talitha Amir

Sunday, July 11, 2010

Sedih di Bawah Bahagia


Yogyakarta, 11 Juli 2010

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Selamat pagi menjelang siang saudara-saudariku semua (entri ini ditulis pukul 11.20 Waktu Laptop Saya-WLS, 06.36 Waktu Sideris Lokal-WSL-ngaco!)

Akhir-akhir ini entah mengapa saya jadi sering menulis, lebih tepatnya mengetik. Alasan terkuat hingga saat ini adalah kekurangkerjaannya saya dan ketidaktercapainya cita-cita masa kecil saya yang ingin menjadi kasir-dulu kasir memakai mesin penghitung dan bukan komputer dengan barcode reader seperti sekarang ini. Sehingga, demi memuaskan hasrat saya untuk mengetik maka saya memutuskan untuk membuat dan akan menerbitkan entri yang saat ini sedang Anda baca. Sedih di bawah bahagia.

Hari ini adalah hari terakhir saya berada dalam peradaban dunia remaja dimana internet menjadi andalan utama dalam meningkatkan ke-'gahoel'-an. Mengapa? Karena besok tepatnya pada hari Senin tanggal 12 juli 2010 saya akan kembali dikarantina-seperti ikan-dalam rangka persiapan maju di medan pertempuran yakni Olimpiade Sains Nasional 2010 di Medan Sunatera Utara. Menyedihkan memang, karena hidup saya dan Anda dapat meihatnya sendiri sebagian besar entries yang ada di blog ini berisi tentang topik yang relatif sama, yakni 'OLIMPIADE' dan 'KEBUMIAN'. Ya, dua kata yang selalu terngiang di kedua telinga saya dan menggetarkan gendang telinga saya selama SMA ini. Hingga detik ini, 2 tahun sudah saya berkutat dengan kedua kata tersebut, menghapus kata yang sangat disukai remaja seusia saya, 'LIBUR'. Berbagai cara untuk mendapatkan sensasi seperti yang diberikan satu kata keramat tersebut telah saya tempuh. Mulai dari menambah hari izin pembinaan-misalnya pelatnas selama 14 hari menjadi 15 atau 16 hari-, mengurangi jam belajar di sekolah dengan izin yang sebenarnya tidak izin tetapi pada nyatanya saya izin (baca: memb*l*s dengan terhormat), memaksimalkan hari libur, dan mengesahkan HARPITNAS (baca: Hari Kejepit Nasional). Sedih di bawah bahagia.

Jika yang ada di benak Anda saat ini adalah hal-hal berikut:
  1. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang menyiksa remaja.
  2. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang mengekang remaja.
  3. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang hanya mengasah kemampuan Kognitif dan Psikomotor remaja tanpa mengindahkan sisi afektifnya.
  4. Pembinaan Olimpiade hanya akan menjadikan remaja stress berkepanjangan.
  5. Keterlibatan remaja dalam Olimpiade hanya akan menjadikan mereka cenderung individualis dan tidak peka terhadap lingkungan.
Maka saya harap Anda menghilangkan segala pikiran tersebut karena kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Maksud saya, mari kita ulangi.

Maka saya harap Anda menghilangkan segala pikiran tersebut karena hal-hal tersebut adalah SALAH.
Yah, setidaknya beberapa diantaranya dalam sudut pandang yang berbeda.

Akan tetapi, saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
sesuai dengan ajaran kitab suci kita tercinta, Al-Qur'an, surah Al-Hujuraat ayat 12, artinya kurang lebih:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa."
Intinya su'udzon itu tidak baik!-ingat pelajaran bab satu semester satu kelas satu SMA Muhammadiyah satu dua Yogyakarta.
Jadi, kita ambil sisi positifnya saja. Bahwasanya Olimpiade sama sekali TIDAK BERBAHAYA BAGI REMAJA. Dengan catatan, tentunya remaja yang dimaksud adalah remaja yang benar-benar niat berkecimpung di dunia olim-untuk selanjutnya saya pakai nickname 'olim' saja. Sehingga orangtua, maupun remaja itu sendiri yang sedang misunderstanding terhadap olim diharapkan setelah membaca entri ini tidak khawatir lagi mengenai kesehatan Anda atau anak Anda di kancah per-'olim'-an.

Well, langsung saja saya akan menuturkan bebera alasan mengapa statement di atas cukup kuat.
  1. Pembinaan olim jelas remaja akan diasah kemampuannya secara kognitif.
  2. Pembinaan olim juga mengasah psikomotor remaja dengan adanya praktek lapangan atau laboratorium.
  3. Pembinaan olim terkadang antara penginapan dan tempat belajar terpaut jarak yang cukup jauh dimana dalam perjalanan mungkin ada beberapa cobaan dan rintangan, dalam hal ini fisik sangat diperlukan-mengingat juga keharusan otak untuk on dari pagi hingga malam- sehingga membuat anak-anak olim juga tangkas dan trengginas-agak lebay. But, at least, physically OK!
  4. Anak Olim dalam perjuangannya membawa nama suatu kelompok manusia, sebut saja nama keluarganya, sekolah, kota/kabupaten, provinsi, hingga negara-tim INA yey! Sehingga bisa saja ia tidak berjuang sendiri, it means ia harus mahir bekerja-sama, teamwork is very important. Ada saat dimana teman Anda yang kelak juga menjadi saingan Anda membutuhkan pertolongan, maka Anda-jika baik-akan menolongnya. Atau sebaliknya, jika tiba saat Anda membutuhkan pertolongan, maka teman Anda -lagi-lagi jika ia baik- akan menolong Anda. So, KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN OK!
  5. Pembinaan olim tidak selamanya harus menjadikan anak-anak olim freak-setidaknya mereka telah freak dari awal, dan STRESS. Beberapa pembinaan yang baik akan menyediakan waktu berlibur dimana anak olim dapat bersenang-senang. And they got a lot of fun from it! dan tentunya Many sweet moment!
  6. Anak olim-dengan syarat yang saya ajukan sebelumnya-tentunya tidak akan merasa tertekan maupun tersiksa karena they need it, they want it, and they got it!
  7. Last but nor least, they feel happy with some sacks of money from OLYMPIAD!
So, saya rasa beberapa argumen asal yang dikemas secara amburadul diatas cukup untuk menguatkan statement sebelumnya dan enough untuk menutup entri ini. Sedih di bawah bahagia.

Akhir kata, pantun untuk Anda semua,
Naik gunung
Turun Gunung
Di tengah jalan
Mobil mogok
Capek deeh! -jayus-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Dengan penuh kebahagiaan,
Ferralda Talitha Amir