Thursday, September 2, 2010

Kisah Persahabatan Dunia Nyata dan Dunia Maya

Yogyakarta,
2 September 2010.

Ada apa ya dengan judul diatas? Saya juga kurang faham xP.

Kisah ini dimulai dari keisengan saya membaca majalah favorit saya yang baru dibeli kemarin (1/09) yakni National Geographic Indonesia edisi September 2010. Di dalamnya memuat berbagai informasi yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Salah satu yang menarik buat saya adalah artikel berjudul "DUNIA TRANSPARAN" di rubrik Gagasan Besar. Kontan saya biasa saja (lagi). Di pikiran saya saat itu adalah: plastik (ada apa dengan plastik? Menurut saya plastik identik dengan transparan), ikan sidat (ada artikel tentang ini di bagian akhir majalah, saya pikir itu adalah halaman awalnya), dan internet (dunia maya apakah sama dengan transparan? saya juga tidak begitu mengerti). Ternyata saudara-saudari sebangsa dan setanah air! Isinya adalah.......

Realitas Tertambah / Augmented Reality

"Oh itu, kalau itu mah saya udah tau dari dulu".
Awwr, bagi saya ini adalah istilah baru meskipun saya sudah tau sedikit mengenai ini tapi saya baru tau nama panggilan makhluk tersebut.

"Emang makhluk apa sih dia?".
Hahaha, nah nggak tau juga kan? Jadi, setelah memahami artikel tersebut sejenak dan menikmati foto-fotonya, saya bertekad untuk menggali informasi tentang ini lebih lanjut kepada mbah Google, dan mbah Google pun mengantarkan saya kepada istrinya, Nenek Wiki.

Singkat kata, saya pun mengunjungi Nenek Wiki berbekal sekeranjang kurma. Setelah melalui berbagai siksaan dan cobaan seperti diajak main scrabble sama liliput hingga dihadang oleh serigala jahat, saya pun sampai ke tempat beliau (ribet amat ya? padahal cuma mau bilang nge-klik link di google). Baca, baca, dan baca. Akhirnya saya mafhum sedikit tentang makhluk ini.

Realitas Tambahan/Augmented Reality atau biasa disingkat AR adalah penggabungan dunia semu (dapat berupa benda atau lingkungan) dengan dunia nyata. Simpelnya mirip-mirip koran yang ada di pilem Spy Kids (bukan yang di Harpot lho!), udah pernah nonton kan? Atau maen game Mosquitos di hape 3650/3660 tempo doeloe itu. Kalau mau lebih ilmiah, berikut pengertiannya yang disadur dari Nenek Wiki.
Ronald T. Azuma (1997) mendefinisikan augmented reality sebagai penggabungan benda-benda nyata dan maya di lingkungan nyata, berjalan secara interaktif dalam waktu nyata, dan terdapat integrasi antarbenda dalam tiga dimensi, yaitu benda maya terintegrasi dalam dunia nyata.[6][7] Penggabungan benda nyata dan maya dimungkinkan dengan teknologi tampilan yang sesuai, interaktivitas dimungkinkan melalui perangkat-perangkat input tertentu[8], dan integrasi yang baik memerlukan penjejakan yang efektif.
Bentuk alatnya bermacam-macam. Akan coba saya uraikan sebagai berikut.
  • Head Mounted Display
Yang ini dipasang dikepala, kalau menurut gambarnya sih seperti bando gitu. Ada dua jenis yang tergolong genus ini (jiah, kayak bio aja), yang pertama Opaque Head-mounted display, dipakai di salah satu mata, sedangkan mata yang lain melihat seperti biasa, kemudian kedua gambar diintegrasikan (begitu sepemahaman saya). Kalau dua-duanya ditutup? Tenang aja, ada kamera dan komputer yang mengaturnya, tinggal lihat rekaman sajo. Kedua, See-trough Head-mounted Display, menyerap cahaya dari lingkungan luar sehingga kita melihat seperti biasa, nanti ada sistem cermin dan komputer yang melakukan pencitraan grafis.
  • Virtual Retinal Display
Yang ini rada unik, cahaya diproyeksikan langsung pada retina, ckckck. Sayangnya untuk perangkat ini masih berupa prototipe, jadi masih dikembangkan gitu deh. Kelebihannya dari HMD antara lain resolusi gambar yang lebih tinggi, dan bisa memproyeksikan gambar penuh maupun yang transparan.
  • Tampilan Berbasis Layar
Ini yang paling mudah kita temui, ada di iPhone dan Android (mudah sih mudah, harganya cuy!). Nah, kalau yang dicontohin di NG, kita tinggal nyalain aplikasinya, GPS bekerja, posisi kita udah diketahui sama mereka terus kita tinggal ngarahin kamera ke suatu objek, misalnya apartemen, nanti dilayar muncul dah infomasi tentang apartemen tersebut, seperti biaya sewa, dll. Atau ke mana gitu, nanti ada info perampokan 2 hari yang lalu, nah jadinya kita bisa lebih hati-hati kan? Terus, ada informasi tentang tempat bensin yang murah (sampai ada keterangan 'tanpa timbal' gitu), halte bis terdekat, juga para tweeps ada didekat kita. Bahkan, kalau ngarahin ke langit pas siang hari misalnya, kita bisa melihat (digambarkan) dan diberi keterangan rasi apa yang ada disitu. So, buat kamu-kamu yang merasa astronom nggak perlu repot-repot lagi buka Stellarium dari lappy atau iPhone yang masih berupa aplikasi biasa (jiah, biasa katanya).

Untuk aplikasi penggunaannya mah jangan ditanya, banyak euy. Kita nggak cuma bisa video call-an, tapi bisa langsung menampilkan orangnya meskipun dalam bentuk semu, jadi rasa kangen lumayan terobati, dan buat yang pacaran mau pegang-pegang pun nggak bakal ada rasanya, ya iyalah, pegangan sama udara! Tapi kalau sama proyeksi aja udah naik syahwatnya, kebangeten dah tu orang. Buat yang suka lupa naruh barang kan bagus juga tuh, bisa memutar rekaman kejadian. Terlebih lagi kalau udah memakai lensa kontak dan dihubungkan dengan otak kita, aje gileee.

Sekarang teknologi kita untuk AR yang sudah ada di pasaran adalah telepon genggam atau hape. Menurut NG, tahun 2010 sudah merambah ke kacamata AR, dan tahun 2015 (?) akan menuju ke lensa kontak. Ayo generasi muda! Nantinya kita yang akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, dimana para generasi tua mengharapkan kita, mari kita perkuat iman (1) dan ilmu sejak sekarang! (Jadi semangat nih di bidang teknologi xP)

info lebih lengkap hubungi Nenek Wiki atau Mbah Google!



Ditulis sambil bolak-balik ke Nenek Wiki,
Nge-FB, nyari data buat karya tulis, ngupil,
angkat jemuran, ngunci pintu samping,
perut keroncongan (fasting day-22nd),
dan mau nonton video Keong Racun tapi
ngga bisa-bisa x(,



Ferralda Talitha Amir

No comments:

Post a Comment

silakan menuliskan komentar Anda di sini...