Sunday, July 11, 2010

Sedih di Bawah Bahagia


Yogyakarta, 11 Juli 2010

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Selamat pagi menjelang siang saudara-saudariku semua (entri ini ditulis pukul 11.20 Waktu Laptop Saya-WLS, 06.36 Waktu Sideris Lokal-WSL-ngaco!)

Akhir-akhir ini entah mengapa saya jadi sering menulis, lebih tepatnya mengetik. Alasan terkuat hingga saat ini adalah kekurangkerjaannya saya dan ketidaktercapainya cita-cita masa kecil saya yang ingin menjadi kasir-dulu kasir memakai mesin penghitung dan bukan komputer dengan barcode reader seperti sekarang ini. Sehingga, demi memuaskan hasrat saya untuk mengetik maka saya memutuskan untuk membuat dan akan menerbitkan entri yang saat ini sedang Anda baca. Sedih di bawah bahagia.

Hari ini adalah hari terakhir saya berada dalam peradaban dunia remaja dimana internet menjadi andalan utama dalam meningkatkan ke-'gahoel'-an. Mengapa? Karena besok tepatnya pada hari Senin tanggal 12 juli 2010 saya akan kembali dikarantina-seperti ikan-dalam rangka persiapan maju di medan pertempuran yakni Olimpiade Sains Nasional 2010 di Medan Sunatera Utara. Menyedihkan memang, karena hidup saya dan Anda dapat meihatnya sendiri sebagian besar entries yang ada di blog ini berisi tentang topik yang relatif sama, yakni 'OLIMPIADE' dan 'KEBUMIAN'. Ya, dua kata yang selalu terngiang di kedua telinga saya dan menggetarkan gendang telinga saya selama SMA ini. Hingga detik ini, 2 tahun sudah saya berkutat dengan kedua kata tersebut, menghapus kata yang sangat disukai remaja seusia saya, 'LIBUR'. Berbagai cara untuk mendapatkan sensasi seperti yang diberikan satu kata keramat tersebut telah saya tempuh. Mulai dari menambah hari izin pembinaan-misalnya pelatnas selama 14 hari menjadi 15 atau 16 hari-, mengurangi jam belajar di sekolah dengan izin yang sebenarnya tidak izin tetapi pada nyatanya saya izin (baca: memb*l*s dengan terhormat), memaksimalkan hari libur, dan mengesahkan HARPITNAS (baca: Hari Kejepit Nasional). Sedih di bawah bahagia.

Jika yang ada di benak Anda saat ini adalah hal-hal berikut:
  1. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang menyiksa remaja.
  2. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang mengekang remaja.
  3. Pembinaan Olimpiade adalah hal yang hanya mengasah kemampuan Kognitif dan Psikomotor remaja tanpa mengindahkan sisi afektifnya.
  4. Pembinaan Olimpiade hanya akan menjadikan remaja stress berkepanjangan.
  5. Keterlibatan remaja dalam Olimpiade hanya akan menjadikan mereka cenderung individualis dan tidak peka terhadap lingkungan.
Maka saya harap Anda menghilangkan segala pikiran tersebut karena kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Maksud saya, mari kita ulangi.

Maka saya harap Anda menghilangkan segala pikiran tersebut karena hal-hal tersebut adalah SALAH.
Yah, setidaknya beberapa diantaranya dalam sudut pandang yang berbeda.

Akan tetapi, saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
sesuai dengan ajaran kitab suci kita tercinta, Al-Qur'an, surah Al-Hujuraat ayat 12, artinya kurang lebih:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa."
Intinya su'udzon itu tidak baik!-ingat pelajaran bab satu semester satu kelas satu SMA Muhammadiyah satu dua Yogyakarta.
Jadi, kita ambil sisi positifnya saja. Bahwasanya Olimpiade sama sekali TIDAK BERBAHAYA BAGI REMAJA. Dengan catatan, tentunya remaja yang dimaksud adalah remaja yang benar-benar niat berkecimpung di dunia olim-untuk selanjutnya saya pakai nickname 'olim' saja. Sehingga orangtua, maupun remaja itu sendiri yang sedang misunderstanding terhadap olim diharapkan setelah membaca entri ini tidak khawatir lagi mengenai kesehatan Anda atau anak Anda di kancah per-'olim'-an.

Well, langsung saja saya akan menuturkan bebera alasan mengapa statement di atas cukup kuat.
  1. Pembinaan olim jelas remaja akan diasah kemampuannya secara kognitif.
  2. Pembinaan olim juga mengasah psikomotor remaja dengan adanya praktek lapangan atau laboratorium.
  3. Pembinaan olim terkadang antara penginapan dan tempat belajar terpaut jarak yang cukup jauh dimana dalam perjalanan mungkin ada beberapa cobaan dan rintangan, dalam hal ini fisik sangat diperlukan-mengingat juga keharusan otak untuk on dari pagi hingga malam- sehingga membuat anak-anak olim juga tangkas dan trengginas-agak lebay. But, at least, physically OK!
  4. Anak Olim dalam perjuangannya membawa nama suatu kelompok manusia, sebut saja nama keluarganya, sekolah, kota/kabupaten, provinsi, hingga negara-tim INA yey! Sehingga bisa saja ia tidak berjuang sendiri, it means ia harus mahir bekerja-sama, teamwork is very important. Ada saat dimana teman Anda yang kelak juga menjadi saingan Anda membutuhkan pertolongan, maka Anda-jika baik-akan menolongnya. Atau sebaliknya, jika tiba saat Anda membutuhkan pertolongan, maka teman Anda -lagi-lagi jika ia baik- akan menolong Anda. So, KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN OK!
  5. Pembinaan olim tidak selamanya harus menjadikan anak-anak olim freak-setidaknya mereka telah freak dari awal, dan STRESS. Beberapa pembinaan yang baik akan menyediakan waktu berlibur dimana anak olim dapat bersenang-senang. And they got a lot of fun from it! dan tentunya Many sweet moment!
  6. Anak olim-dengan syarat yang saya ajukan sebelumnya-tentunya tidak akan merasa tertekan maupun tersiksa karena they need it, they want it, and they got it!
  7. Last but nor least, they feel happy with some sacks of money from OLYMPIAD!
So, saya rasa beberapa argumen asal yang dikemas secara amburadul diatas cukup untuk menguatkan statement sebelumnya dan enough untuk menutup entri ini. Sedih di bawah bahagia.

Akhir kata, pantun untuk Anda semua,
Naik gunung
Turun Gunung
Di tengah jalan
Mobil mogok
Capek deeh! -jayus-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Dengan penuh kebahagiaan,
Ferralda Talitha Amir

Thursday, July 8, 2010

Tanpa Kekecewaan dan Penyesalan

Yogyakarta, 8 Juli 2010

Rangakaian acara Olimpiade Kebumian 2009 berakhir sudah. Setelah melewati berbagai macam ujian dan cobaan berbulan-bulan lamanya akhirnya tuntas dengan hasil yang cukup memuaskan. Berada di posisi dimana tinggal selangkah lagi, dan saya akan menjadi tim Indonesia untuk IESO 2010 di Yogyakarta bulan September nanti. Akan tetapi, hal yang sesungguhnya menyedihkan sama sekali tidak saya rasakan. Kenapa? Orang=orang mungkin akan bertanya-tanya, melihat seberapa besar pengorbanan yang saya lakukan.

Sekolah, telah lama saya tinggalkan.
Waktu bersantai, banyak terhapuskan.
Hal penting bagi remaja yakni teman, tidak terurus seperti kebanyakan remaja pada umumnya.

Tetapi apakah saya menyesal?
TIDAK

Apakah saya kecewa?
TIDAK juga

Apakah saya dendam?
Untuk apa?

Apa rencana saya selanjutnya?
Kembali bertarung memperebutkan jatah tim INA untuk IESO 2011 di Itali.

Dari hati saya takut. Takut mengecewakan orang-orang yang telah mendukung saya. Teman, Pemerintah, Sekolah, dan Keluarga. Takut mereka tidak akan menerima saya lagi. Itulah yang saya rasakan sampai saya menemui mereka satu persatu dan menceritakan apa adanya. Yang saya dapatkan adalah kalimat-kalimat penenang hati, penambah semangat, pemberi motivasi, dimana membuat saya kembali bangkit dan menguatkan tekad.
Karena kesempatan masih ada.
Karena menurut saya, saya belum maksimal.
Karena saya ingin lebih.
Karena saya ingin membanggakan bangsa dan negara.
Karena saya ingin orang tua dan keluarga saya bahagia.

Ibu berkata "tahun ini mungkin jika dapat medali internasional kamu akan mudah masuk universitas nak. Tapi jika tahun depan, untuk apa? kamu hanya akan menyusahkan diri saja. Mama juga sudah capek mengurusnya. Lebih baik kamu konsen ke Ujian Nasional dan cukuplah Emas di Medan untuk bekal masuk universitas favorit."

Terima Kasih Ma atas segalanya.
"Saya hanya ingin mencatatkan nama saya dalam sejarah"

Alhamdulillah ibu saya mau memahami
"Jika itu kehendakmu, berusahalah secara maksimal."

Satu lagi yang kupetik dari lika-liku kehidupan ini.
"Ma, akhirnya aku tau arti KELUARGA"

sekalipun bukan dalam makna keluarga kandung.

ditulis oleh Ferralda Talitha Amir setelah tetes hujan berhenti turun dari angkasa

Pelatnas IESO tahap IV usai, Tim Indonesia Terpilih!

Yogyakarta, 8 July 2010

Pelatnas IESO 2010 Tahap IV diadakan di Observatorium Bosscha, Lembang, Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat selama 2 minggu. Dimulai pada tanggal 20 Juni 2010 dimana seluruh peserta mulai berkumpul di BPP Kartini kota Bandung sejak pagi hingga malam kemudian berangkat bersama-sama pada pukul 20.3o ke Lembang. Saat itu Wisma BPP sendiri sedang dihuni oleh puluhan siswa-siswi terbaik bangsa yang tergabung dalam Tim Indonesia untuk bertanding di berbagai kejuaraan seperti International Biology Olympiad (IBO), International Chemistry Olympiad (IChO), dan International Astonomy Olympiad (IAO-bener gak sih?). Sebenarnya Pelatnas IESO sendiri akan ditempatkan di Wisma BPP. Akan tetapi, karena ketersediaan ruangan yang terbatas dan mengingat materi Pelatnas tahap IV ini adalah astronomi, maka ditempatkan di Bosscha.

Sesampainya di Lembang, tepatnya di Penginapan Buah Sinuan, para peserta menyelesaikan urusan administrasi dan mulai merapikan kamar yang dilanjutkan dengan istirahat. Keesokan paginya peserta mulai melakukan rutinitas bangun pagi, sarapan, dan berangkat ke lokasi Observatorium Bosscha dengan berjalan kaki sambil mendaki. Waktu yang diperlukan cukup lama, sekitar 10-20 menit, kadang beberapa peserta lebih memilih berlari (sekalian olahraga). pada minggu pertama ruang kelas bertempat di ........ (lupa namanya), kemudian pindah ke Ruang Baca perpustakaan. Kelas dimulai pukul 08.00 hingga 05.00 yang terbagi menjadi 4 sesi yang diselingi dengan coffee break dan ishoma. Materi yang diberikan antara lain: Besaran Umum dalam Astrofisika, Sun as Star (Matahari sebagai Bintang), Waktu dan Kalendar, Tata Surya, Alam Semesta, Pengolahan Data dan Statistika, Bola Langit, Instrumentasi, dll. Setelah itu ada juga observasi yang dilakukan di Balai Van Albada baik berupa observasi siang maupun malam. Observasi siang hanya untuk observasi matahari dengan menggunakan William Optic (iya gak?) dan hanya sehari. Sedangkan observasi malam berlangsung selama 8 hari mulai pukul 19.30 hingga 22.00 dengan menggunakan teleskop Vixen (D=200mm; f=1950mm) dengan sistem mounting equatorial menggunakan motor dan StarBook. Para peserta juga dibekali dengan Peta Bintang, Fase Bulan, dan software Stellarium 10.2.

Pada akhir Pelatnas diadakan Tes Final untuk Observasi dan Tes komprehensif. Dari akumulasi nilai seluruh Pelatnas akhirnya didapatkan 8 siswa terpilih yang berhak mewakili Indonesia di kancah International Earth Science Olympiad 2010 di Yogyakarta dan berkewajiban untuk mengharumkan nama bangsa terlebih dalam posisi sebagai tuan rumah. Siswa-siswa yang beruntung itu antara lain:

  1. Rio Priandi Nugroho (SMA Negeri 3 Yogyakarta)
  2. Kamil Ismail (MAN Insan Cendekia Serpong)
  3. Fajar Febriani Amanda (SMA Negeri 1 Banjarnegara)
  4. Ega Gita Prasista (SMA Negeri 2 Purwokerto)
  5. Asri Oktavioni (SMA Negeri 8 Jakarta)
  6. I Wayan Punia Raharja (SMA Negeri 1 Amplapura)
  7. Ardy Ramadhan (SMA Negeri 48 Jakarta)
  8. Mikey (SMA Negeri 1 Pekanbaru)
Selamat untuk para peserta yang terpilih, semoga dapat memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan baik dan menyumbangkan medali-medali pada INDONESIA.

NB: Penulis sendiri tidak masuk kedalam tim INA, akan mencoba lagi untuk ke ITALY.