Thursday, September 9, 2010

Kerupuk dan Guling Ijo Merayakan Lebaran

9 September 2010.

It's the last day on Ramadhan!
Nah, di tengah hiruk pikuk mudik, keluarga saya juga tidak mau kalah ramainya. Segala sesuatunya disiapkan terutama makanan (sekeluarga gemar makan). Kue-kue kering bertoples-toples, kue tart ada juga, brownies berdos-dos, lauk-pauk berupa opor, krecek, dan rendang melimpah (jangan heran, karena semuanya menjadi persiapan makanan selama seminggu kedepan XP), dan lain-lain.

Saya sebagai anak yang baik, entah mengapa di akhir Ramadhan bisa juga kesambet. Sejak pagi hari saya menunjukkan perilaku-perilaku aneh, seperti mengangkat jemuran, membersihkan lemari, mandi pagi serta keramas. Sore pun berlanjut, saya membantu mama memasak agar-agar warna merah dan hijau dan memotong-motong nangka yang semuanya akan dijadikan es buah di hari raya. Kemudian saya pun dengan rasa kasih sayang sempet-sempetnya dan mau-maunya dimintai tolong untuk menyuap adik, alhamdulillah adik makan dengan lahap. Tidak berhenti disitu, setelah berbuka puasa saya menggoreng kerupuk. Ya, kerupuk saudara-saudara!! Kerupuk yang saya goreng terdiri dari dua jenis, yaitu kerupuk udang dan emping. Menurut saya, lebih mudah menggoreng emping meskipun satu-satu. Berikut beberapa gambar yang diambil dari TKP.

Gambar 1: Inilah gaya saya yang sedang menggoreng (sempet-sempetnya minta foto)

Gambar 2-4: Tiga toples kerupuk yang berhasil saya goreng. Ternyata 90% dari total kerupuk sukses dengan terhormat berwarna BUKAN KUNING a.k.a gosong.
Gambar 5: Perbandingan antara warna emping 'yang seharusnya' dan yang gosong.

Selesai urusan dengan kerupuk, mama membersihkan penggorengan dan kompor, dengan bangganya beliau berkata "Waduh anak mama pinter, minyaknya pas, selesai tanpa meninggalkan sisa minyak" dan beliau memamerkan wajannya, mendengar pujian tersebut saya hanya senyum congkak dan berkata "Iyalah ma, minyaknya nggak ada sisa di wajan dong, kan udah bertebaran di pinggir kompor".

Setelah itu, saya melakukan tarian keberhasilan melakukan hal positif, tarian tersebut saya namakan 'The Foolish Victory Dance', caranya sangat mudah! Cukup melangkah sekali kedepan, goyangkan pingul, lakukan hal ini dua kali sambil berkata "Iyey iyey....iyeeeh iyeeeh!", selanjutnya lebarkan kaki dengan tangah menjuntai ke bawah, dan katakan "uu aak uu aak!", mudah bukan? Mungkin lain kali saya akan mengupload video tersebut XP.

Selanjutnya, saya menyiapkan baju yang akan dipakai besok dan mengupload gambar-gambar yang ada disini, tak lupa menyempatkan diri untuk mengikuti berita di salah satu stasiun TV kesayangan saya. Ditengah kesibukan menonton TV, ternyata saya dimintai tolong lagi untuk menyusun beberapa (banyak) lontong yang masih panas di meja makan dan menutupnya.

Gambar 6: Guling ijo yang saya susun.
Kemudian dirombak sedikit oleh nenek, katanya jangan rapat-rapat, nanti nggak bisa bernafas. Dari sini saya mengambil pelajaran bahwa "Lontong juga manusia"

Naah, setelah itu saya menulis postingan ini, gyahahahahahaha.
Oiya, saya baru tau ternyata saat lebaran tidak hanya baju yang baru. AC, kulkas, sendok, bahkan sabun cuci tangan pun baru!!! Beberapa hari yang lalu setelah pulang dari swalayan, salah satu barang yang kami (saya, adik dan mama) beli adalah sabun cuci tangan, sesampainya di rumah saya pun ingin menggunakan sabun tersebut. Sontak mama berteriak "JANGAN!!", setelah kaget terjadi percakapan antara saya (D) dan mama (M).
D: Ada apa ma?
M: Jangan dipakai sekarang sabunnya.
D: Emang kenapa?
M: Kalau udah dibuka sekarang nanti keburu habis sebelum lebaran, terus ujung-ujungnya pas lebaran nanti kita balik make sunlight. (di rumah kami memakai 'sedikit' sunlight yang diisi dalam botol yang dipenuhi air untuk cuci tangan)
D: Lha, emang kenapa? Biasanya juga gitu kan?
M: Yaaaa... Jangan dong, sekali-sekali lebaran sabunnya kerenan dikit.
D: ....????????


Segenap keluarga besar Amir, terutama keluarga kecil Taufik Amir mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
MOHON MAAF JASMANI DAN ROHANI
Semoga amal ibadah kita selama ini diterima oleh-Nya.
Happy holiday! Hati-hati di jalan!
Oiya, I hope all of Moeslem around the world may have a great Idul Fitri like I had. Ameen.

Ditulis ditengah lautan kumandang Takbir,
Dengan rasa kemenangan,
Dengan tangan penuh kecipratan minyak goreng,
Dengan senyuman tulus,


Ferralda Talitha Amir

Thursday, September 2, 2010

Buka Bersama "Nggenjot 2010"

Yogyakarta,
2 September 2010.

Dude, it's 22nd on Ramadhan!
Topik kali ini adalah cerita buka bersama Kontingen DIY untuk ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2010. Kami menamainya 'Nggenjot 2010' atas usul Yafi. Akronim tersebut berasal dari 'Kontingen Jogja Tahun 2010'.

Acara buber ini sendiri telah lama kami rencanakan, berawal dari rasa kekeluargaan yang telah timbul diantara kami, dan rasa kangen yang mendera Hayu akan belahan jiwanya, Hilton, maka kami pun setelah berdiskusi hebat akhirnya memutuskan untuk mengadakannya hari ini, bertempat di Food Court SkyDining, dekar Fly Over Lempuyangan.

Saya sendiri sepulang bimbel langsung menuju lokasi tersebut, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya disana sudah banyak NggenjotCrew yang datang. Manusia pertama yang saya lihat adalah Erwien, dia dan wajah lugunya nongol begitu saja dari pojok atap SkyDining. Ya, SkyDining sesuai namanya menjual panorama kota Jogja dari atas atapnya meskipun tidak terlalu tinggi karena bangunannya hanya terdiri dari 4 atau 5 lantai.

Sesampainya di atap, saya langsung menghampiri Crew yang terdiri dari kaum dhuafa, maksud saya kaum Adam, setelah say hello pada mereka, saya menyapa Crew yang terdiri dari kaum hawa. Setelah itu acara pengambilan foto sebentar dan berbuka.

Menu untuk berbuka adalah aneka jus, es campur yang dengan indahnya hanya tersedia LIMA gelas sedangkan kami ber-25 sehingga dengan penuh rasa kekeluargaan kita adakan pengeroyokan dan pemerkosaan terhadap es tidak berdosa itu; terakhir adalah kentang goreng plus saos. Sedangkan menu utamanya adalah seperangkat alat sholat (lho?), maksud saya seporsi ayam bakar, nasi, satu tempe goreng, satu tahu goreng, satu mangkok sayur asem, dan satu piring kecil sambel. Kamipun makan dengan rakusnya, dan dasar manusia tidak tahu malu, ketika Homo antisativa (baca: Hayu) menawarkan nasinya, saya dan Hanani dengan indahnya menawarkan diri. Parahnya, genjatan yang dilakukan Hanani tidak sebatas itu, ia menawarkan diri lagi untuk menerima sumbangan sambel. Alhasil, si malang Shinta pun merelakan sambelnya diobok-obok Hanani.

Setelah prosesi makan dan sholat (oiya, mushallanya kecil dan sempet kelabakan kita XP), saatnya ber-Geje ria! Ada yang komplotan pemain poker (lain kali buber di Las Vegas aja apa ya?), ada yang bergumul, maksud saya bercerita, ada yang senang menyendiri seperti tetua Ias, ada yang sibuk mengkhayal, serta ada pula yang sibuk jeprat-jepret sana sini padahal hasilnya nggak bagus, huahahaha XP.

Acara selanjutnya foto bersama. Tidak mudah mengajak para cecunguk meninggalkan meja pokernya untuk berfoto, berikut tips yang dapat digunakan saat mengajak orang banyak untuk berfoto:
  • Beberapa orang yang sudah ingin berfoto segera dikumpulkan dan bersiap untuk foto.
  • Sang fotografer meneriakkan kata "SIAP! SATU, DUA...... TIIIII......." dengan merdu. Ingat! dengan MERDU! Boleh dalam berbagai bahasa.
  • Ulangi langkah kedua dengan suara yang lebih keras ketika yang diajak belum beranjak.
  • Yakinlah, dalam beberapa detik mereka pun datang, jika tidak, mereka bukan kaum narcisism seperti ANDA! (udah, gue tau Han, lu pasti baca ini)
Nah, tragisnya, kalau biasanya fotografer yang ngejar-ngejar artis buat difoto, dalam kasus Nggenjot, FOTOGRAFERNYA YANG DIKEJAR!!! Ternyata masalah tidak hanya di saat memanggil Crew yang bejat-bejat itu, mereka pun susah diatur untuk berfoto. Ketika berkumpul, datang Crew di depan yang sudah ada, karena tidak terima wajah imutnya ketutupan akhirnya yang tadinya di belakang maju ke depan, mau nggak mau saya harus mundur untuk mendapatkan gambar semuanya. Kejadian itu berulang terus hingga saya tidak dapat mundur lagi dan saya memutuskan untuk lari ke belakang. Ternyata keputusan yang saya buat SALAH TOTAL! Awalnya saya pikir mereka hanya akan berbalik tapi tetap dalam posisi semula, tetapi mungkin karena saya semangat lari dan mereka pikir saya akan kabur maka mereka pun MENGEJAR SAYA! Alhasil sesi foto-foto terselewengkan menjadi sesi kejar-kejaran hingga saya terpojok dan akhirnya mereka pun mau tenang untuk difoto. Alhamdulillah.

Terakhir, kami pergi ke atap bawah untuk berfoto juga (dasar narsis!), kami meminta tolong kepada salah satu pegawai disana untuk memfoto kami. Acara ini berlangsung sakral dan cukup tenang daripada acara sebelumnya (CUKUP karena tidak ada kata TENANG di Nggenjot), mungkin karena mereka (dan saya?) tidak bisa maju-maju, maupun mundur-mundur (ya iyalah, kalau mundur adanya jatoh kebawah, mau?).

Dan akhirnya lagi, saya harus pulang karena telah dijemput Mas saya yang telah setia menunggu di bawah, duileh. Begitu berat rasanya meninggalkan mereka....hiks

Testimoni:
Awal berjumpa, ku tak tau apa-apa
Tanpa makna, tanpa duga
Kupikir kalian hanyalah manusia-manusia berego tinggi
Bertitelkan 'anak olim' berjalan angkuh
Acuh tak acuh

Dugaan tenyata berujung jua
Terhapuskan atau tertutup
Kebaikanmu, dia, kalian, semuanya
Membuka mata hatiku
Menyelimuti kalbu

Canda tawa,
Melihat Murtini tidur terhormat di kelas Biologi
Tangis haru,
Melihat beberapa diantara kita pulang tak berkalung medali
Keluh kesah,
Ketika balik ke sekolah dan mendapat siksa dunia
Kasih sayang,
Melingkupi kita

Tak pernah ada raut kesedihan ketika bersama
Ketika bersama kalian saya merasa
Berada di tengah KELUARGA besar
Saya merasa dihujani kasih sayang
Saya merasa kalian bukanlah kawan
Kalian adalah saudara, keluarga.

Ditulis dengan majas hiperbola,
Pada tengah malam,
Jadi kalong,
Cekikikan sendiri,
Ditemani angin sunyi.


Ferralda Talitha Amir


NB:
  • Foto-foto dapat dijenguk di sini.
  • Hanani dan Hilton: dengan penuh kenistaan banyak nongol di foto-foto tersebut, harap maklum.
  • Pembaca yang budiman selalu tidak segan untuk meninggalkan komentar demi terwujudnya kemaslahatan bangsa.
  • Nuwun.

Kisah Persahabatan Dunia Nyata dan Dunia Maya

Yogyakarta,
2 September 2010.

Ada apa ya dengan judul diatas? Saya juga kurang faham xP.

Kisah ini dimulai dari keisengan saya membaca majalah favorit saya yang baru dibeli kemarin (1/09) yakni National Geographic Indonesia edisi September 2010. Di dalamnya memuat berbagai informasi yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Salah satu yang menarik buat saya adalah artikel berjudul "DUNIA TRANSPARAN" di rubrik Gagasan Besar. Kontan saya biasa saja (lagi). Di pikiran saya saat itu adalah: plastik (ada apa dengan plastik? Menurut saya plastik identik dengan transparan), ikan sidat (ada artikel tentang ini di bagian akhir majalah, saya pikir itu adalah halaman awalnya), dan internet (dunia maya apakah sama dengan transparan? saya juga tidak begitu mengerti). Ternyata saudara-saudari sebangsa dan setanah air! Isinya adalah.......

Realitas Tertambah / Augmented Reality

"Oh itu, kalau itu mah saya udah tau dari dulu".
Awwr, bagi saya ini adalah istilah baru meskipun saya sudah tau sedikit mengenai ini tapi saya baru tau nama panggilan makhluk tersebut.

"Emang makhluk apa sih dia?".
Hahaha, nah nggak tau juga kan? Jadi, setelah memahami artikel tersebut sejenak dan menikmati foto-fotonya, saya bertekad untuk menggali informasi tentang ini lebih lanjut kepada mbah Google, dan mbah Google pun mengantarkan saya kepada istrinya, Nenek Wiki.

Singkat kata, saya pun mengunjungi Nenek Wiki berbekal sekeranjang kurma. Setelah melalui berbagai siksaan dan cobaan seperti diajak main scrabble sama liliput hingga dihadang oleh serigala jahat, saya pun sampai ke tempat beliau (ribet amat ya? padahal cuma mau bilang nge-klik link di google). Baca, baca, dan baca. Akhirnya saya mafhum sedikit tentang makhluk ini.

Realitas Tambahan/Augmented Reality atau biasa disingkat AR adalah penggabungan dunia semu (dapat berupa benda atau lingkungan) dengan dunia nyata. Simpelnya mirip-mirip koran yang ada di pilem Spy Kids (bukan yang di Harpot lho!), udah pernah nonton kan? Atau maen game Mosquitos di hape 3650/3660 tempo doeloe itu. Kalau mau lebih ilmiah, berikut pengertiannya yang disadur dari Nenek Wiki.
Ronald T. Azuma (1997) mendefinisikan augmented reality sebagai penggabungan benda-benda nyata dan maya di lingkungan nyata, berjalan secara interaktif dalam waktu nyata, dan terdapat integrasi antarbenda dalam tiga dimensi, yaitu benda maya terintegrasi dalam dunia nyata.[6][7] Penggabungan benda nyata dan maya dimungkinkan dengan teknologi tampilan yang sesuai, interaktivitas dimungkinkan melalui perangkat-perangkat input tertentu[8], dan integrasi yang baik memerlukan penjejakan yang efektif.
Bentuk alatnya bermacam-macam. Akan coba saya uraikan sebagai berikut.
  • Head Mounted Display
Yang ini dipasang dikepala, kalau menurut gambarnya sih seperti bando gitu. Ada dua jenis yang tergolong genus ini (jiah, kayak bio aja), yang pertama Opaque Head-mounted display, dipakai di salah satu mata, sedangkan mata yang lain melihat seperti biasa, kemudian kedua gambar diintegrasikan (begitu sepemahaman saya). Kalau dua-duanya ditutup? Tenang aja, ada kamera dan komputer yang mengaturnya, tinggal lihat rekaman sajo. Kedua, See-trough Head-mounted Display, menyerap cahaya dari lingkungan luar sehingga kita melihat seperti biasa, nanti ada sistem cermin dan komputer yang melakukan pencitraan grafis.
  • Virtual Retinal Display
Yang ini rada unik, cahaya diproyeksikan langsung pada retina, ckckck. Sayangnya untuk perangkat ini masih berupa prototipe, jadi masih dikembangkan gitu deh. Kelebihannya dari HMD antara lain resolusi gambar yang lebih tinggi, dan bisa memproyeksikan gambar penuh maupun yang transparan.
  • Tampilan Berbasis Layar
Ini yang paling mudah kita temui, ada di iPhone dan Android (mudah sih mudah, harganya cuy!). Nah, kalau yang dicontohin di NG, kita tinggal nyalain aplikasinya, GPS bekerja, posisi kita udah diketahui sama mereka terus kita tinggal ngarahin kamera ke suatu objek, misalnya apartemen, nanti dilayar muncul dah infomasi tentang apartemen tersebut, seperti biaya sewa, dll. Atau ke mana gitu, nanti ada info perampokan 2 hari yang lalu, nah jadinya kita bisa lebih hati-hati kan? Terus, ada informasi tentang tempat bensin yang murah (sampai ada keterangan 'tanpa timbal' gitu), halte bis terdekat, juga para tweeps ada didekat kita. Bahkan, kalau ngarahin ke langit pas siang hari misalnya, kita bisa melihat (digambarkan) dan diberi keterangan rasi apa yang ada disitu. So, buat kamu-kamu yang merasa astronom nggak perlu repot-repot lagi buka Stellarium dari lappy atau iPhone yang masih berupa aplikasi biasa (jiah, biasa katanya).

Untuk aplikasi penggunaannya mah jangan ditanya, banyak euy. Kita nggak cuma bisa video call-an, tapi bisa langsung menampilkan orangnya meskipun dalam bentuk semu, jadi rasa kangen lumayan terobati, dan buat yang pacaran mau pegang-pegang pun nggak bakal ada rasanya, ya iyalah, pegangan sama udara! Tapi kalau sama proyeksi aja udah naik syahwatnya, kebangeten dah tu orang. Buat yang suka lupa naruh barang kan bagus juga tuh, bisa memutar rekaman kejadian. Terlebih lagi kalau udah memakai lensa kontak dan dihubungkan dengan otak kita, aje gileee.

Sekarang teknologi kita untuk AR yang sudah ada di pasaran adalah telepon genggam atau hape. Menurut NG, tahun 2010 sudah merambah ke kacamata AR, dan tahun 2015 (?) akan menuju ke lensa kontak. Ayo generasi muda! Nantinya kita yang akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, dimana para generasi tua mengharapkan kita, mari kita perkuat iman (1) dan ilmu sejak sekarang! (Jadi semangat nih di bidang teknologi xP)

info lebih lengkap hubungi Nenek Wiki atau Mbah Google!



Ditulis sambil bolak-balik ke Nenek Wiki,
Nge-FB, nyari data buat karya tulis, ngupil,
angkat jemuran, ngunci pintu samping,
perut keroncongan (fasting day-22nd),
dan mau nonton video Keong Racun tapi
ngga bisa-bisa x(,



Ferralda Talitha Amir