28 Agustus 2010.
Kali ini saya akan berbagi ilmu yang baru saja saya dapatkan pada hari ini. Berawal dari beberapa hari yang lalu, saat keluar dari masjid Al-Mujaddid (Masjid sekolah saya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta) saya ditawari oleh salah satu guru, yakni Pak Agus (sekedar informasi, beliau adalah guru akhlak abadi, maksudnya beliau mengajari saya dan teman-teman pelajaran akhlak dari kelas X hingga XII, ckckck), untuk mengikuti Telekonferensi tentang sains pada hari Sabtu, 28 Agustus 2010. Pada saat itu, saya menyanggupi. Esoknya, ada pengumuman di kelas saya tentang adanya sosialisasi STAN dimana pelaku sosialisasi tersebut merupakan alumni SMA Muha, naasnya kegiatan tersebut mengambil waktu yang tepat sama dengan kegiatan telekonferensi, hanya tempatnya yang berbeda, telekonferensi di ruang ex-lab bahasa, sedangkan sosialisasi STAN bertempat di Masjid. Sontak saya biasa saja (lho!), mengingat saya tidak terlalu minat dengan STAN (maaf, tapi ibu saya sangat ruang ex-lab bahasa.
Singkat cerita, telekonferensi pun berlangsung, dan saya ternyata satu-satu perwakilan kelas XII yang hadir saat itu. Oh ya, sekedar info, telekonferensi ini yang ketiga kalinya bagi saya, sedangkan bagi SMA Muha ini sudah kesekian kalinya. Kegiatan ini merupakan wujud kerjasama SMA Muha dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 1000guru.net dimana telah berlangsung sekitar 1,5 tahun (sumber: Bu Nazilah).
Telekonferensi ini melibatkan beberapa pihak, antara lain: SMA Muha (Bu Nazilah, Bu Huda, Bu Dwix, Pak Agus, Pak desgraf, dan siswa yang berjumlah tigapuluhan), 1000guru.net (Bu Witri di Jerman dan Pak Imbron), serta narasumber yakni Bu Shohiffah Annur yang sekarang sedang menempuh S2 di Technische Universität Braunschweig (ribet ya!) katanya selama 1,5 tahun, sedangkan sebelum berangkat ke Jerman beliau sudah kuliah S2 di FMIPA UGM selama 1 tahun, dan beliau ini seorang kimiawati (idih, apaan tuh?).
Materi kali ini adalah "Bahaya Pestisida terhadap Lingkungan" (kalau tidak salah seperti itu, ini termasuk ke dalam bahasan kimia lingkungan). Dimana pestisida dibagi menjadi beberapa jenis seperti insektisida (pembasmi serangga), fungisida (pembasmi jamur), herbisida (pembasmi gulma), rodentisida (pembasmi binatang pengerat), akarisida (pembasmi tungau), dan fumigan (berupa gas yang dapat membunuh insekta).
Pestisida memiliki beberapa nama, seperti:
- Nama Kimia : 3,5,6-trichloro-2-pysidinoxyacetic acid (maaf kalau ada salah pengetikan)
- Nama Umum : Triclopyr
- Nama Pasaran : Garlon 3A/Garlon 4
Nah, pestisida juga terbagi menjadi beberapa jenis/golongan, yakni:
- Insect Repelient (ex: penolak nyamuk - ini termasuk tidak ya? Masalahnya catatan saya tidak jelas keterangan mengenai hal ini, lebih baik tidak usah dipikirkan dan coba cari yang valid di MbahGoogle)
- Organochlorine : merupakan senyawa hidrokarbon yang terklorinasi (pada cabang C banyak Cl), salah satu yang populer adalah DDT, dulu DDT digunakan untuk membasmi nyamuk malaria, tetapi penggunaannya dilarang sejak 1972 karena akumulasi berlebihan di dalam tubuh dapat merusak neurotoksin, terlebih lagi DDT merupakan zat yang persisten di dalam tubuh. Akan tetapi, hingga sekarang masih ditemukan adanya DDT pada beberapa obat nyamuk di Indonesia.
- Organophosphat : merupakan insektisida paling toksik, jika terdapat sisa-sisa zat ini pada makanan dan termakan pada batas tertentu dapat membawa kematian, karena zat ini menghambat enzim Acetylkholinesterase (dalam sel darah merah).
- Karbamat : mekanisme toksisitas sama dengan organophosphat, hanya saja lebih rendah dampaknya.
- Phyrethroid : merupakan pestisida sintetik turunan 6 phyrethin alami yang diisolasi di phyrethrum (ekstrak bunga krisan), zat ini beracun bagi ikan dan organisme perairan lainnya.
Saya kan nggak doyan minum pestisida, jadi nggak mungkin dong mati konyol gitu.... Eits, jangan salah, keracunan pestisida bukan berarti mengkonsumsinya secara langsung, zat-zat beracun tersebut dapat masuk ke tubuh kita melalui udara karena beberapa pestisida bersifat volatile. Selain itu, tangan kita yang habis dipakai berinteraksi dengan pestisida kemudian tidak dicuci dengan bersih dapat membukakan pintu selebar-lebarnya kepada racun untuk menggerogoti tubuh kita. Sumber-sumber makanan yang seperti ikan, kerang, dll, yang telkah tercemar juga turut andil dalam masuknya pestisida ke tubuh manusia.
Berikut ini ditampilkan beberapa kasus keracunan:
- Pada tahun 2007 sekitar 446 orang menjadi korban keracunan pestisida, dan 30%-nya keracunan saat menyemprotkan pestisida (dapat disebabkan karena saat menyemprotkan tidak memakai sepatu boot, masker, dan sarung tangan karet).
- Keracunan akibat DDT yang hingga saat ini sisa -sisa zat tersebut masih ada di lingkungan kita.
Kalau begitu, solusinya apa dong? Sekarang telah ada pestisida alami yang dinamakan biopestisida, cara kerjanya secara umum sebagai berikut:
- Bioinsektisida : menggunakan protozoa, biasanya dengan nama dagang NOLOC.
- Bioherbisida : menggunakan penyakit yang ditimbulkan bakteri, jamur, dan virus, mengisolasinya dan kemudian ditransfer ke gulma.
- Biofungi : menggunakan spora.
Terus, kalau ada biopestisida, mengapa negara kita ternyata masih menggunakan pestisida kimiawi yang notabene merangkap fungsi sebagai homosida (maksa)?
Menurut Bu Iffah, hal tersebut dikarenakan oleh petani yang belum paham dengan bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pestisida kimiawi, kurang populernya biopestisida, dan harga biopestisida yang lebih mahal.
Hemm... Ternyata begitu ya, tak terasa kita hidup di lingkungan yang awalnya kita rasa baik-baik saja, padahal tanpa kita sadari malaikat pencabut nyawa selalu mengikuti kita kemana-mana (lebay), tidak di udara, darat, bahkan air pun telah tercemar.
So, saatnya kita peduli lingkungan dan sesama, setelah mengetahui ini ada baiknya ilmu kita di-share kepada petani atau pihak lain yang belum paham agar segera mengambil tindakan konkret untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Kan ujung-ujungnya yang untung atau rugi diri kita juga, setuju?
Ditulis dengan semangat menggebu-gebu,
Ferralda Talitha Amir
No comments:
Post a Comment
silakan menuliskan komentar Anda di sini...