Thursday, September 2, 2010

Buka Bersama "Nggenjot 2010"

Yogyakarta,
2 September 2010.

Dude, it's 22nd on Ramadhan!
Topik kali ini adalah cerita buka bersama Kontingen DIY untuk ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2010. Kami menamainya 'Nggenjot 2010' atas usul Yafi. Akronim tersebut berasal dari 'Kontingen Jogja Tahun 2010'.

Acara buber ini sendiri telah lama kami rencanakan, berawal dari rasa kekeluargaan yang telah timbul diantara kami, dan rasa kangen yang mendera Hayu akan belahan jiwanya, Hilton, maka kami pun setelah berdiskusi hebat akhirnya memutuskan untuk mengadakannya hari ini, bertempat di Food Court SkyDining, dekar Fly Over Lempuyangan.

Saya sendiri sepulang bimbel langsung menuju lokasi tersebut, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya disana sudah banyak NggenjotCrew yang datang. Manusia pertama yang saya lihat adalah Erwien, dia dan wajah lugunya nongol begitu saja dari pojok atap SkyDining. Ya, SkyDining sesuai namanya menjual panorama kota Jogja dari atas atapnya meskipun tidak terlalu tinggi karena bangunannya hanya terdiri dari 4 atau 5 lantai.

Sesampainya di atap, saya langsung menghampiri Crew yang terdiri dari kaum dhuafa, maksud saya kaum Adam, setelah say hello pada mereka, saya menyapa Crew yang terdiri dari kaum hawa. Setelah itu acara pengambilan foto sebentar dan berbuka.

Menu untuk berbuka adalah aneka jus, es campur yang dengan indahnya hanya tersedia LIMA gelas sedangkan kami ber-25 sehingga dengan penuh rasa kekeluargaan kita adakan pengeroyokan dan pemerkosaan terhadap es tidak berdosa itu; terakhir adalah kentang goreng plus saos. Sedangkan menu utamanya adalah seperangkat alat sholat (lho?), maksud saya seporsi ayam bakar, nasi, satu tempe goreng, satu tahu goreng, satu mangkok sayur asem, dan satu piring kecil sambel. Kamipun makan dengan rakusnya, dan dasar manusia tidak tahu malu, ketika Homo antisativa (baca: Hayu) menawarkan nasinya, saya dan Hanani dengan indahnya menawarkan diri. Parahnya, genjatan yang dilakukan Hanani tidak sebatas itu, ia menawarkan diri lagi untuk menerima sumbangan sambel. Alhasil, si malang Shinta pun merelakan sambelnya diobok-obok Hanani.

Setelah prosesi makan dan sholat (oiya, mushallanya kecil dan sempet kelabakan kita XP), saatnya ber-Geje ria! Ada yang komplotan pemain poker (lain kali buber di Las Vegas aja apa ya?), ada yang bergumul, maksud saya bercerita, ada yang senang menyendiri seperti tetua Ias, ada yang sibuk mengkhayal, serta ada pula yang sibuk jeprat-jepret sana sini padahal hasilnya nggak bagus, huahahaha XP.

Acara selanjutnya foto bersama. Tidak mudah mengajak para cecunguk meninggalkan meja pokernya untuk berfoto, berikut tips yang dapat digunakan saat mengajak orang banyak untuk berfoto:
  • Beberapa orang yang sudah ingin berfoto segera dikumpulkan dan bersiap untuk foto.
  • Sang fotografer meneriakkan kata "SIAP! SATU, DUA...... TIIIII......." dengan merdu. Ingat! dengan MERDU! Boleh dalam berbagai bahasa.
  • Ulangi langkah kedua dengan suara yang lebih keras ketika yang diajak belum beranjak.
  • Yakinlah, dalam beberapa detik mereka pun datang, jika tidak, mereka bukan kaum narcisism seperti ANDA! (udah, gue tau Han, lu pasti baca ini)
Nah, tragisnya, kalau biasanya fotografer yang ngejar-ngejar artis buat difoto, dalam kasus Nggenjot, FOTOGRAFERNYA YANG DIKEJAR!!! Ternyata masalah tidak hanya di saat memanggil Crew yang bejat-bejat itu, mereka pun susah diatur untuk berfoto. Ketika berkumpul, datang Crew di depan yang sudah ada, karena tidak terima wajah imutnya ketutupan akhirnya yang tadinya di belakang maju ke depan, mau nggak mau saya harus mundur untuk mendapatkan gambar semuanya. Kejadian itu berulang terus hingga saya tidak dapat mundur lagi dan saya memutuskan untuk lari ke belakang. Ternyata keputusan yang saya buat SALAH TOTAL! Awalnya saya pikir mereka hanya akan berbalik tapi tetap dalam posisi semula, tetapi mungkin karena saya semangat lari dan mereka pikir saya akan kabur maka mereka pun MENGEJAR SAYA! Alhasil sesi foto-foto terselewengkan menjadi sesi kejar-kejaran hingga saya terpojok dan akhirnya mereka pun mau tenang untuk difoto. Alhamdulillah.

Terakhir, kami pergi ke atap bawah untuk berfoto juga (dasar narsis!), kami meminta tolong kepada salah satu pegawai disana untuk memfoto kami. Acara ini berlangsung sakral dan cukup tenang daripada acara sebelumnya (CUKUP karena tidak ada kata TENANG di Nggenjot), mungkin karena mereka (dan saya?) tidak bisa maju-maju, maupun mundur-mundur (ya iyalah, kalau mundur adanya jatoh kebawah, mau?).

Dan akhirnya lagi, saya harus pulang karena telah dijemput Mas saya yang telah setia menunggu di bawah, duileh. Begitu berat rasanya meninggalkan mereka....hiks

Testimoni:
Awal berjumpa, ku tak tau apa-apa
Tanpa makna, tanpa duga
Kupikir kalian hanyalah manusia-manusia berego tinggi
Bertitelkan 'anak olim' berjalan angkuh
Acuh tak acuh

Dugaan tenyata berujung jua
Terhapuskan atau tertutup
Kebaikanmu, dia, kalian, semuanya
Membuka mata hatiku
Menyelimuti kalbu

Canda tawa,
Melihat Murtini tidur terhormat di kelas Biologi
Tangis haru,
Melihat beberapa diantara kita pulang tak berkalung medali
Keluh kesah,
Ketika balik ke sekolah dan mendapat siksa dunia
Kasih sayang,
Melingkupi kita

Tak pernah ada raut kesedihan ketika bersama
Ketika bersama kalian saya merasa
Berada di tengah KELUARGA besar
Saya merasa dihujani kasih sayang
Saya merasa kalian bukanlah kawan
Kalian adalah saudara, keluarga.

Ditulis dengan majas hiperbola,
Pada tengah malam,
Jadi kalong,
Cekikikan sendiri,
Ditemani angin sunyi.


Ferralda Talitha Amir


NB:
  • Foto-foto dapat dijenguk di sini.
  • Hanani dan Hilton: dengan penuh kenistaan banyak nongol di foto-foto tersebut, harap maklum.
  • Pembaca yang budiman selalu tidak segan untuk meninggalkan komentar demi terwujudnya kemaslahatan bangsa.
  • Nuwun.

2 comments:

  1. ahahahahahahaaaaaaaaaa
    mbak dzaaaaaa :DD
    muah muah muah :*

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah ada juga pembaca yang budiman :) <-bonus smile

    muah muah juga haan :*

    ReplyDelete

silakan menuliskan komentar Anda di sini...